Kelenteng, Tetenger Orang China Perantauan

Kelenteng Hok Tik Bio Tanjung Karang Kudus (Wikipedia)

Tirtanews.id, KUDUS - Dalam sejarah, kelenteng itu merupakan “tetenger” atau identitas orang China yang datang dari daratan Tiongkok dan mencoba mencari perubahan hidup di bagian selatan tanah leluhur mereka, dengan terlebih dahulu mengarungi ganasnya ombak samodra.

Hal itu diungkapkan, Tee Song Liang sesepuh kelenteng Hok Tik Bio (lebih dikenal dengan kelenteng Tanjung, Kudus) dalam bukunya Studi Banding Kelenteng Singkawang dan Jawa.


Sebelum meninggalkan daratan Tiongkok, para perantau tersebut selalu dibekali pesan, jika pulau selatan itu merupakan kumpulan kepulauan besar yang hijau dan subur. Selain juga dibekali sebuah patung yang sejak lama disembah para leluhurnya dan patung itulah setibanya di pulau selatan dijadikan “soko guru” berdirinya sebuah kelenteng. Sedang pulau selatan itu ternyata adalah Indonesia.

Menurut Tee Song Liang, dari sekian banyak pulau di Indonesia yang didarati warga Tiongkok tersebut, sebagian besar mendarat di Pulau Jawa. Kelenteng di Jawa umumnya ditandai dengan warna merah dan kuning. Berasitektur universal dan umumnya bangunannya cukup megah. Sebaliknya di Singkawang – Pontianak relatif jauh lebih sederhana, berwarna abu-abu, namun dianggap orisionil. Sedang di Hongkong, Macao, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Amerika Serikat (di China Town) arsitekturnya sama.

Penulis buku Studi Banding Kelenteng Singkawang dan Jawa yang pernah menjadi wartawan dan “tukang foto” lengkap dengan koleksi kamera tersebut, secara rinci menulis profil 25 kelenteng yang dilengkapi dengan denah “ubarampe” dan tata cara sembahyang di dalam kelenteng. Termasuk waktu sembahyang yang dibagi menjadi 12 bagian (saat), yaitu sejak saat Cu Si hingga saat Hai Si.

Dalam buku yang dicetak sangat terbatas dan untuk kalangan terdekat, Tee Song Liang menyelipkan tiga lembar terjemahan ringkas dari buku Babad Tanah Jawa, terbitan Balai Pustaka tahun 1940 Jilid 23, halaman 11- 16 tentang Kelenteng Babagan Lasem yang bernilai sejarah perjuangan mengusir penjajah Belanda. Terutama terjadinya “perang kuning” antara warga China dengan kompeni (Belanda).

Sedang salah satu kelenteng yang ditulis Tee Song Liang, adalah Kelenteng Tanjung yang didirikan pada tahun 1741 dengan arca pujaan Hok Tek Cing Sien. Lalu kelenteng Kedung Batu (Semarang) yang berhubungan erat dengan Laksamana Zheng Ho atau Sam Poo Kong yang sangat terkenal itu.

Lalu kelenteng Tjoe Hwie Kiong (Rembang) yang dikatagorikan tidak biasa, karena sempat tiga kali pindah tempat. Lalu kelenteng Hok Tek Sing yang kali pertama didirikan di Rembang berubah menjadi Vihara Amorva Bhumi.(Grace)

BERITA LAINYA