Lubang Tikus Penyebab Tanggul Jebol Dukuh Goleng?

Tanggul Sungai Gelis Dukuh Goleng yang jebol. letaknya dibatasai tanah lambiran dan tanah warga dengan lebar rata rata sekitar 30 kmeter (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus nampaknya membuat kesimpulan yang menjadi tanda tanya. Yaitu penyebab tanggul jebol Sungai Gelis di Dukuh Goleng Desa Pasuruhan Lor Kecamatan Jati (Kudus) karena konstruksi tanah rapuh disebabkan lubang tikus (hama) serta hujan hujan sejak dua hari.

Selain itu laman BPBD Kudus per 3 Januari pukul 09.00 juga menyebutkan “membuat konstruksi tanah gembur”. Lebar tanggul jebol sekitar 50 meter dengan ketinggian sekitar 3 meter.

Menurut pengamatan Tirtanews Minggu 3/1/2021, tanggul yang jebol adalah kesatuan tanggul yang berada di tepi jalan masuk (sebelah kiri) Dukuh Goleng. Tanggul itu dipisahkan dengan tanah yang sebagian diakui sebagai milik pribadi warga maupun tanah “lambiran” milik pemerintah. Tanah tersebut lebarnya sekitar 30 meteran yang ditumbuhi aneka jenis tanaman. Setelah itu baru tepi sungai Gelis.

Nonton tanggul jebol sejumlah warga Kudus Minggu 3 Januari 2021 (Foto Grace)

Tanggul tersebut hingga jembatan kecil Desa Setrokalangan yang menghubungkan dengan wilayah Kecamatan Karanganyar (Demak) melalui perahu penyeberangan, sejak puluhan tahun dipetakan sebagai tanggul rawan jebol. Salah satu penyebabnya dijadikan “lalulintas” ternak kerbau untuk mencari makan dan berkubang.


Kemudian ada larangan semua kerbau warga yang tergabung dalam kelompok ternak kerbau Maheso Suro dikandangkan di tempat yang telah disediakan. Namun belum/tidak ditindak lanjuti dengan perbaikan tanggul.

Kemudian mulai Agustus 2020 dimulai normalisasi Sungai Gelis dari seputar pintu air Ploso Tambak Lulang hingga spilway (katub pelimpah air) Goleng di perbatasan Dukuh Goleng Desa Pasuruhan Lor dengan Dukuh Turi Desa Setrokalangan Kecamatan Kaliwungu (Kudus).

Proses normalisasi tersebut baru mencapai seputar jembatan Kencing. Secara teknik normalisasi sungai dilakukan dari arah bawah (muara) ke atas (hulu). Hal ini untuk menghindari terjadinya air yang “ngendhog” (menyatu di tempat yang rendah).


Seperti halnya normalisasi Sungai Juwana (periode terakhir/meski sampai sekarang belum 100 persen rampung). Sempat sebagian sungai Juwana di wilayah Undaan yang dinormalisir, akibatnya di wilayah Desa Kasihan Kecamatan Sukolilo (PatI) menjadi korban genangan air/banjir setiap musim penghujan.

Sedang normalisasi Sungai Gelis yang dimulai Agustus dan dijadwalkan rampung hingga Agustus 2021 dilakukan dari arah atas. Dengan kondisi seperti itu air/banjir tidak segera melaju kea rah katub pelimpah air Goleng, tapi “munthel” di sepanjang jembatan Kencing hingga pelimpah air Goleng. Pada saat yang bersamaan kondisi Sungai Wulan tengah pasang.(Grace)

BERITA LAINYA