Muncul di Banyumas Cabai Rawit Berpewarna

Cabe rawit menggunakan zat pewarna beredar di Banyumas 

Tirtanews.id - Menjelang tutup tahun 2020, wilayah Banyumas dihebohkan dengan temuan cabai rawit berpewarna. Modusnya, pedagang menjual cabai berpewarna itu dengan mengoplos dengan cabai rawit merah yang asli.

Cabai rawit itu mulai beredar di Kabupaten Banyumas sejak 29 Desember 2020. Awalnya ditemukan di Pasar Wage yang ternyata dipasok pengepul dari Temanggung. Akibat ulah pedangang pengepul ini, petani yang terkena getahnya.

Warna cabai berpewarna ini sangat mirip dengan warna asli. Awalnya pedagang pun tidak curiga dan mendistribusikan cabai tersebut ke Pasar Sokaraja, Pasar Cerme dan Pasar Sangkal Putung yang kemudian ke retail dan konsumen akhir.

Cabai tersebut dioplos dengan cabai rawit merah asli kemudian dikemas dalam kardus dengan volume 35 kg per dus. Banyaknya campuran cabai berpewarna tersebut berkisar 0,5 - 1 kg sehingga memang tidak menimbulkan kecurigaan.

Saat ini pihak Kepolisian wilayah setempat sudah mengamankan cabai yang masih tersisa di pedagang dan akan terus melacak yang sudah terlanjur beredar agar tidak dikonsumsi masyarakat.

Faktanya, bahan pewarna yang digunakan bukanlah bahan pewarna makanan sehingga berbahaya jika dikonsumsi.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto langsung menggerakkan seluruh jajarannya terkait ulah pedagang dari Temanggung ini. Kendati demikian, yang bersangkutan sudah diamankan pihak berwajib.

"Masyarakat khususnya di wilayah Jawa Tengah tidak perlu khawatir terkait adanya cabai rawit merah palsu alias berpewarna. Pemerintah khususnya Direktorat Jenderal Hortikultura bersama-sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Dinas Kesehatan, BPOM serta pihak Kepolisian setempat telah menemukan oknum yang melakukan tindakan tersebut dan saat ini sudah ditangkap pihak yang berewenang,” ujarnya.

Prihasto menambahkan, harga cabai rawit merah akhir-akhir ini memang mulai menarik. Kondisi panen di lapangan tidak begitu menyenangkan karena faktor curah hujan yang berdampak pada busuk buah dan layu fusarium. Produksi turun dan keuntungan yang diperoleh tidak begitu bagus. Meskipun demikian siapa pun tidak dibenarkan melakukan penipuan yang membahayakan kesehatan konsumen.

Sebagai langkah preventif di masa hujan, Prihasto menyarankan, sebaiknya petani menggunakan teknologi rainshelter atau sungkup plastik sederhana untuk meminimalkan busuk buah. Bisa juga menggunakan bahan-bahan pengendali yang bisa dibuat sendiri dengan biaya murah seperti campuran belerang, kapur bakar, dan sabun yang bisa dijadikan bahan pengendali layu dan busuk buah.

"Jika petani mau melakukannya maka produksi terjaga dan keuntungan maksimal, ”pungkasnya.(Sintani/ Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar