Taman Tanggul Angin Ambyar

Cukup tertata rapi tumbuhan dan bunga di Taman Tangul Angin (Foto grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Taman Tanggul Angin (TTA) ambyar. Ditempel ketat “kaki” Jembatan Tanggul Angin, sehingga keberadaan TTA “nyaris” tidak terlihat. Padahal dibangun dengan biaya Rp 7, 4 miliar.

Selain juga memunculkan kontroversi penyebutan nama TTA, dengan Hutan Kota Tanggul Angin (HKTA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tanggul Angin. Masing-masing memiliki kreteria dan aturan main sendiri-sendiri.

Terlepas dari hal itu, yang pasti jika warga ingin berkunjung ke lokasi dari arah kota Kudus harus ekstra hati-hati. Sebab jalur lalulintas cukup padat dan satu arah menuju Demak - Semarang.

Dari arah “bangjo” (abang ijo/ lampu lalulintas) lebih dulu ancang-ancang ke tepi kanan. Sebelum berbelok ke kanan harus mewaspadai arus lalulintas ke luar masuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). “Lalu masuk ke “kaki raksasa” jembatan tanggul angin yang terdiri puluhan pilar beton. “ tutur Adi Kurdi dan pacarnya.

Kedua sejoli yang berboncengan naik motor ini kemudian memasuki gerbang TTA. Tengok kanan kiri kok nggak ada juru parkir. “Ragu juga sebenarnya. Namun karena sudah niat pacaran, akhirnya motor saya parkir di dekat pintu masuk. Saya kunci lebih dulu. Takut diembat “tangan panjang” tambah Adi.

Sebaliknya dari arah Demak - Semarang lewat jembatan baru yang cukup megah. Menjelang SPBU, belok kiri atau kanan untuk menuju TTA.

Sepi pengunjung salah satu sudut Taman Tanggul Angin (Foto grace)

Hampir semua pengunjung ketika berada di dalam TTA, pandangan di arahkan ke depan barat, karena tidak ada “hambatan”. Meski tidak ada pandangan yang menarik. Jika mengarahkan pandangan ke arah timur, terhalang dengan “kaki raksasa “ jembatan Tanggul Angin.

“Tadinya berharap bisa menyaksikan Gerbang Kota Kretek yang megah dan dibangun perusahaan terkemuka di Kudus. Terutama menjelang sore dan malam hari, karena gemerlap dan indahnya lampu bangunan senilai lebih dari Rp 22 miliar tersebut. Kami nggak mau datang lagi ke sini ”ujar Edy, bersama isteri dan dua anaknya.

Jika pandangan di arahkan ke selatan terlihat sungai Wulan, dan sebagian jembatan baru. Lalu memandang ke arah utara, tertutup sejumlah bangunan.

Sejumlah tanaman di dalam pot ukuran besar di Taman Tanggul Angin (Foto Grace)

Sebenarnya saat ini, kondisi TTA terlihat hijau. Semua jenis bunga dan tanaman dalam kondisi bugar. Banyak tempat duduk dari bahan kayu maupun dari keramik tertata rapi. Juga terlihat ruangan luas yang bisa menampung banyak mobil dan motor.

Tertulis Cafetaria, tapi tutup karena tidak ada pengunjung di Taman Tanggul Angin (Foto Grace)

Dulu ada “TV raksasa”, tapi sekarang lenyap entah ke mana. Selain itu konon juga ada air mancurnya, tapi sekarang juga tidak terlihat. Jadi apa yang menjadi daya tarik dikau TTA?.(Grace)

BERITA LAINYA