Tradisi Megalitik di Rahtawu

Batu-batu besar seukuran kerbau di Rahtawu dijadikan tempat untuk bertapa (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Kebanyakan penduduk di seputar Pegunungan Rahtawu, termasuk warga Kabupaten Kudus sendiri tidak tahu menahu tentang kata dan arti Megalitik.

Tapi jika menyebut nama Bambang Sakri, Junggring Saloko, Begawan Abiyoso dan tempat yang dikeramatkan, warga dengan lancar bisa menuturkan dan sekaligus menunjukkan tempatnya.

Menurut hasil penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Balai Arkeologi Jogya tahun 1988/1999, tradisi satu syura adalah peninggalan tradisi megalitik yang berkembang antara 2.500 – 1.500 tahun sebelum Masehi (untuk gelombang tua) dan lebih kurang 1.000 tahun sebelum Masehi (untuk gelombang muda).

Megalitik asal kata “mega” artinya besar dan “lithos” artinya batu, sehingga artinya batu besar dan maksudnya adalah peninggalan purbakala yang berupa batu batu besar.

Dijadikan obyek swafoto batu-batu besar di Rahtawu (Foto Grace)

“Namun inti pokok pengertian megalitik sebenarnya tidak terletak pada ukuran batunya yang besar-besar, melainkan pada latar belakang pendiriannya, yaitu pemujaan arwah nenek moyang ”tutur Diman Suryanto selaku ketua tim survei/penelitian .

Dari hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang erat antara upacara pemujaan nenek moyang dengan monumen-monumen dari batu kecil, batu besar atau bahan lain. Bahkan dapat dilakukan tanpa monumen samasekali.

Sedang manifestasi ide megalit telah begitu meresap dalam segala segi kehidupan masyarakat sepanjang masa, sehingga tanpa upacara yang lengkap pun orang dapat dianggap melakukan upacara megalitik. Seperti kebiasaan semedi (meditasi) di depan onggokan atau timbunan batu.

Sedang tujuan upacara megalitik lebih mendekatkan diri di tempat yang dianggap suci dan keramat. Dengan permohonan memperoleh kebahagiaan lahir batin Kebisaaan tersebut merupakan bentuk pelestarian adat yang dilaksanakan secara turun temurun.

Lalu berdasarkan hasil inventarisasi, di Desa Rahtawu yang berada di kawasan Gunung Rahtawu dengan ketinggian sekitar 1.522 dari atas permukaan air laut terdapat 16 tempat peninggalan megalitik dan menhir (batu tegak).

Sungai Gelis di Desa Rahtawu masih banyak ditemukan aneka jenis dan ukuran batu (Foto Grace)

Ke-16 tempat tersebut yang sebagian besar menggunakan nama/tokoh pewauyangan adalah : Bambang Sakri, Junggring Saloka (berupa onggokan batu), Manumoyoso (timbunan batu berukuran 100 x 150 centimeter), Pandudewanoto (timbunan batu berukuran 100 x 150 centimeter), Sela Setangkep (batu monolit sebanyak dua buah), Sang Hyanh Wenang (timbunan batu), Klampis Ireng (kelompok batu), Abiyoso, Sanggar Pamujan, Sanggar Pamulangan Sanggar Jamurdipo, Sanggar Sapujagat, Betara Wisnu, Polososoro, Sekutrem dan Mbah Modo.

Tim peneliti menyarankan kepada Pemkab Kudus maupun dinas/instansi terkait agar tradisi megalitik perlu dipelihara, dibina dan dilestarikan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang sejarah sekaligus dan upaya pelestarian budaya.

Sebagian wajah sungai gelis di Rahtawu yang mampu menyedot banyak pengunjung (Foto Grace)

Namun hingga sekarang belum banyak yang dilakukan satuan kerja pelengkap daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Kudus. Sebaliknya justru sebagian warga Desa Rahtawu yang memiliki banyak kreatifitas malah lebih dahulu yang mewujudkannya.(Grace)

BERITA LAINYA