Vaksin: Percaya Hoax, Teori Konspirasi Atau Ilmuwan

Ilustrasi vaksin

Tirtanews.id - Berikut ini Tirtanews sajikan penjelasan dan bantahan dari pertanyaan dan argument yang sering diucapkan orang-orang yang tidak percaya vaksin dan lebih memilih untuk percaya hoax (bohong) dan teori-teori konspirasi.

Pertanyaan : Hidangan dan makanan sehat cukup untuk menghindari Covid. Tidak perlu Vaksin, Benarkah?.

Jawab : Betul memang semakin imun kita kuat, semakin kebal kita dari virus. Tapi tidak semua virus, bakteri, atau parasit lain bisa dicegah hanya dengan pola makan sehat. Mau kita sesehat apapun, kalau terpapar rubella, HIV, hepatitis, ebola, polio, dll. bisa tetap kena.

Pertanyaan : Saya punya hak untuk tidak menerima vaksin. Kalau saya tidak mau tidak usah memaksa Benar ?.

Jawab : Jika anda hidup sendirian di pulau tanpa orang lain, mungkin betul vaksinasi itu adalah hak/pilihan pribadi. Tapi kita hidup berdampingan dengan orng lain.

Apalagi di pulau Jawa, penduduk sangat padat. Jadi, vaksinasi itu bukan masalah kesehatan pribadi saja, tapi mencegah penularan dan membentuk herd immunity (herd immunity terbentuk jika krng lbh 70% orng divaksin).

Dengan divaksin, kita melindungi orang lain yang tidak bisa divaksin (misal lansia, orng kelainan imun, yg menjalani kemoterapi, penderita alergi langka, dll*) agar tetap sehat. Jika mereka terlular COVID-19 dan meninggal, maka itu kesalahan para orang sehat yg memilih utuk tdk divaksin.* tergantung jenis dan merek vaksin*


Pertanyaan : Mengapa pemerintah menghimbau/mewajibkan semua orang yang bisa divaksin ? Apakah termasuk pelanggaran hak asasi manusia?.

Jawab : Dalam hal COVID sekarang pemerintah sebaiknya mewajibkan vaksinasi untuk melindungi orang orang tertentu yang tidak bisa vaksin, kasihan mereka yang tidak punya pilihan. Kasihan orng yang ingin divaksin tapi tidak bisa, lansia dan orang- orang sakit yang ingin hidup.

Hanya karena egoisme orang orang anti-vaksin yang percaya hoax dan konspirasi, orang orang yang benar benar menghargai hidup bisa meninggal.

Pilihanmu sebagai anti-vaxxer dapat membunuh orang yang sakit dan lemah. Saya yakin di agama apapun membunuh itu perbuatan dosa, apalagi terhadap orng tua dan orang yang sakit.

Pertanyaan : Vaksin itu hoax. Tidak membentuk anti virus. Covid-19 itu hanya isu. Benarkah ?.

Jawab : Bagi yang mau percaya hoax atau teori teori konspirasi silahkan. Yang jelas, science itu bukan agama. Science bukan untuk dipercaya. Biologi itu fakta. Jantung kita ada satu, itu fakta, tidak peduli mau percaya atau tidak.

Mau kita tidak percaya vaksin, tetap saja faktanya segelintir orang tertentu akan menjadi korban dari pilihan egois orng yang tidak vaksin.

Lakukan 3M dan tolong nanti ambil vaksin jika kalian bisa divaksin. Bantu bentuk herd immunity untuk melindungi orng lain yang secara fisik tidak mampu mendapatkan vaksin.

Pertanyaan : Kami tidak percaya pemerintah. Tidak transparan.Pemerintah hanya mengalihkan isu lain./tidak dapat dipercaya. Benar?

Jawab : Kalau yang tidak percaya pemerintahan Indonesia, percayalah pada kami para ilmuan dan tenaga medis. Ambil vaksinasi untuk melindungi nyawa orang lain yang tidak bisa divaksin (lansia, orng kelainan imun, yg kemoterapi, dll). Atau percayalah pemerintahan negara lain saja yang menurut kalian terpercaya. Jutaan orang dari negara lain juga sudah divaksin.


Pertanyaan : Percuma ambil vaksin. Virusnya terus bermutasi dan orang bisa kena lagi. Jadi buat apa vaksin?

Jawab: Betul. Tapi perlu diketahui bahwa virus tidak bisa mutasi jika tidak ada penyebaran. Jika kita memvaksinasi cukup banyak orang, maka mutation rate virusnya akan melambat. Lama-kelamaan maka pandemi COVID akan bisa selesai. Maka dari itu, vaksinasi bukan solusi instan, harus tetap 3M sampai herd immunity terbentuk.

Pertanyaan : Jika telah divaksin dan sudah imun terhadap Covid, kenapa kita tetap harus melakukan memakai masker dan menjaga jarak ?

Jawab : Jika tujuannya hanya untuk proteksi diri sendiri, tidak usah pakai masker. Tapi tidaklah sebaiknya kita juga menyelamatkan org lain yang tidak bisa di vaksin (misal lansia, orang kelainan imun, yg menjalani kemoterapi, penderita alergi langka, dll)?

3M harus tetap dilakukan sampai herd immunity terbentuk (kurang lebih saat 70% orng telah divaksin). Vaksinasi itu bukan masalah kesehatan pribadi saja, tapi mencegah penularan dan membentuk herd immunity.

Vaksinasi dan 3M bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga membatu orang lain yg membutuhkan perlindungan.

Pertanyaan : Segala senyawa kimia buatan yang masuk ke tubuh dapat menimbulkan efek besar atau kecil. Vaksin dapat menimbulkan efek samping yang bisa membahayakan tubuh. Benar ?

Jawab : Benar. Segala hal yang masuk pada tubuh pasti ada efeknya, dalam hal vaksinasi, tujuan dari vaksinasi adalah memberikan efek positif bagi tubuh, yaitu memberikan imunitas.

Untuk efek samping yang negatif, itu benar bisa terjadi, tapi bukan dalam hal vaksin saja. Makanan sehat bertujuan menyehatkan tubuh. Tapi bagi segelintir orng (sangat sedikit) yang memiliki alergi langka tertentu atau kelainan genetic tertentu, makanan spt tomat, kacang, susu, seafood, bisa sangat berbahaya/mematikan. Sekali lagi, sangat jarang. Sama halnya dengan semua obat dan vaksin.

Pertanyaan : Vaksin mungkin dapat menyelamatkan manusia dari Covid dan mengakhiri pandemi. Tapi kelak keselamatannya bisa terancam oleh efek samping vaksin. Apakah worth it?

Jawab : Iya. Pandemi COVID merupakan prioritas utama pada saat ini. Coba baca analogi dibawah agar dpt memahami lebih mudah dan jelas.


Orang yang pingsan dan tidak bernafas dengan baik, harus diberi Cardiopulmonary resuscitation (CPR) agar jantung terus memompa darah dan otak tidak kekurangan oksigen.

Itu prioritasnya. Ada efek dari prosedur CPR, antara lain tulang rusuk retak/patah. Walaupun sudah retak, proses CPR tetap harus dilakukan sampai ambulan datang dengan tabung oksigen dan defibrilator.

Rusuk retak bisa obati nanti, tapi jika CPR tdk dilaakukan, maka orangnya pasti 100% akan mati.Jika itu terlalu extreme (100% akan mati) coba saya beri contoh yg lain.

Jika orng mengalami kecelakaan mobil parah dan orngnya tak sadarkan diri di dalam mobil, kita harus menolong untung menjauhkan korban dari kendaraan tsb.

Kecelakaan mobil yang parah, memiliki resiko terbakar atau ledakan kecil, katakanlah 70%. Tapi, di sisi lain, memindahkan korban kecelakaan spt itu bisa memperparah cidera (jika ada), terutama pada tulang punggung. Dengan menyelamatakn korban dari api, ada resiko korban jd lumpuh atau meninggal, katakanlah 2%.

Disini, memindahkan korban ke area yg lbh aman adalah prioritas, drpd khawatir tentang kelumpuhan atau kematian akibat dipindah.

Pertanyaan : Saya sudah terkena Covid dan sembuh. Bukankah saya sudah imun dan memiliki “anti virus”? Apakah masih harus vaksin lagi ?

Jawab : Bagus kalau sudah sembuh, selamat. Betul anda sudah imun dan memiliki "anti-virus", tapi tidak bisa dibilang lebih kuat daripada vaksin.

Perlu diketahui virus terus bermutasi. Anda masih bisa terkena virus dengan "strain" baru. Jadi lebih baik tetap divaksin. Dengan kata lain, lebih baik "anti-virus"nya di update dengan versi terbaru.

Pertanyaan : Mengapa negara yang memproduksi merek vaksin tertentu juga import vaksin dari negara lain.? Apakah vaksin dari negara tersebut jelek ?

Jawab : Tidak semua merek vaksin memiliki kelebihan dan kekurangan yg sama. Contohnya, misalkan vaksin yg lebih mudah didistribusikan (misalnya tidak perlu suhu -50 untuk menjaga agar tetap bagus), mungkin tidak bisa digunakan untuk orang dengan kelainan genetmisaik tertentu.

Contoh trade-offs lain, misalnya harga yang lebih mahal bisa digunakan untuk para lansia, sedangkan yang lebih murah tidak. Dari contoh trade-offs faktor2 demikian (usia penerima, metode pengiriman, harga, strain virus dilokasi, dll).

Sebuah negara sangat mungkin untuk mengkolaborasikan merek2 vaksin yang digunakan sesuai dengan kebutuhan negara tsb. Dengan demikian, herd immunity dapat lbh cepat terbentuk.

Pertanyaan : Mau bagaimanapun juga saya tetap tidak mau divaksin

Jawab : Sama halnya seperti merokok, atau nyetir dengan keadaan mabuk. Karena pilihan anda, orang lain bisa turut menjadi korban jiwa. Kalau orang normal harusnya bakal merasa berdosa ya membunuh orang lain secara tidak langsung. Mungkin kalau anda beda.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar

BERITA LAINYA