Covid-19 Juga “Menyerang” Joko Penyayang Binatang dan Bisnis Burung

Joko dengan kandang nempel dengan dinding rumahnya (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Dampak Covid-19 juga menimpa Joko (30) anak ke tiga dari empat bersaudara yang tinggal di Mlatinorowito Gang VII Kota Kudus, Selain dikenal sebagai pengepul aneka jenis burung. Juga sekaligus sebagai penyayang binatang.

“Sebelum ada Covid-19, saya bisa berpenghasilan bersih rata-rata Rp 3,5 juta per bulan. Sekarang hanya berkisar Rp 1- Rp 2 juta kotor per bulan. Nembe wingi “lock down, niki malah “di off “ malih dua hari ”ujarnya saat berbincang dengan Tirtanews, Rabu sore (3/2/2021), sambil menunjukkan “WA” dengan foto Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo Dua Hari Di rumah Saja.

Ia sempat mengajukan permohonan bantuan permodalan kepada Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Disnakerperinkop UKM) tapi ditolak. “Saya tidak tahu persis prosedurnya. Padahal saya dan teman teman seprofesi membutuhkannya. Saya juga tidak memperoleh berbagai bentuk bantuan lainnya dari pemerintah ” tambahnya terus terang.

Menurut lajang bertubuh gempal ini, dengan melimpah ruahnya aneka burung dan binatang di Indonesia, maka kesempatan “berbisnis” sekaligus pelestariannya sangat terbuka. Terbukti dengan adanya pasar burung Pramuka di Jakarta Timur yang konon tergolong pasar burung terbesar se Asia Tenggara.

“Sebelum Covid-19, saya bisa pasok ke Jakarta 6-7 kali per bulan. Kini tinggal 2-3 kali per bulan. Saya menerima kiriman dari Kudus sendiri, Pati, Jepara, Rembang, Blora, Grobogan dan dari sejumlah daerah di Jawa Timur, ” tambahnya.

Joko di dalam kandang - di dalam rumah (Foto Grace)

Mengingat terjadinya banyak pelanggaran dalam bisnis ini, khususnya menyangkut jual beli burung - binatang yang dilindungi, maka Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Khususnya BKSDA sewilayah bekas Karesidenan Pati memperketat patrolinya.

Joko terus terang tidak mau melanggarnya, mengingat bukti di lapangan jika terbukti melanggar selain sanksi hukum, juga denda dan biaya lainnya bisa membuat bangkrut. Meski masih tetap ada oknum pemerintah yang melanggarnya.

“Burung dan binatang yang dilindungi pada umumnya harganya jauh di atas harga rata-rata. Fantatis- spektakuler. Ini bisa dimengerti. Tidak hanya dari suara, tapi warna, bentuk tubuh dan sebagainya yang serba “wah” decak kagum Joko.

Puter Blorok

Kini di komplek rumah keluarganya yang tidak terlalu besar, terlihat satu kamar ukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter penuh sesak dengan aneka jenis burung dan ayam. Begitu pula kandang kecil yang menempel di dinding bagian timur.

Joko anak dari pasangan suami isteri Rochmad Sutarto - Sri Manisih (sudah meninggal beberapa tahun lalu) ini menyodorkan “barang” yang ada di dalam kandang

Mantenan gunung (truntung weru)

Seperti Sikatan Emas, Mugi Maki, Kolibri Kaca (Kowul), ayam Bangkok, Poland, Batik Kanada, Onagadori (ayam Jepang), perkutut lokal, Makoa, Ciblek Sawah (Klik-klik), Puter Putih, Mantenan Gunung (Truntung Weru), Murai Irian (Teot),, Sikatan, Puter Blorok,  Ayam Poland, Glatik Belong, Merpatifilback (merpati bulu terbalik), Kolibri kelapa (manggar), Ciblek Gunung (Alang alang), Tong cit (cabean kepala merah), love bird blorok ijo non klep (tanpa kaca mata) dan Love bird non klep” (Grace)

BERITA LAINYA