Jembatan Ogal Agil Setrokalangan Lenyap Tak Berbekas

Menyeberang sungai wulan

Tirtanews.id, KUDUS - Jembatan “ogal agil” yang terletak di Sungai Wulan lenyap tak berbekas, ditelan keganasan banjir. Begitu pula perahu penyebarangannya. Lokasinya di perbatasan Desa Setrokalangan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus dengan Desa Kedungwaru Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak.


Akibatnya, sekitar 1.000 – 1.500 orang yang hampir sepanjang 24 jam melalui jembatan tersebut dan sebagian besar warga Kecamatan Karanganyar (Demak), sejak lebih dari 10 hari terakhir terpaksa harus mencari jalan lain. Sebab kondisi sungai Wulan baru banjir dengan debit cukup besar dan arus cukup kuat, Selain itu seluruh wilayah Desa Setrokalangan pun juga tengah kebanjiran.


Mereka pada umumnya kaum perempuan yang bekerja di sejumlah pabrik rokok dan industri lainnya di wilayah Kecamatan Kaliwungu. Sebagian lagi para bakul, petani, buruh tani dan pekerja lainnya.

“Kami terpaksa “umbal” lewat Welahan, Mayong baru ke pabrik di Kaliwungu, Sebagian lagi lewat Karanganyar - Jati - Kaliwungu. Lebih jauh. Tambah ongkos. Perginya lebih awal (lebih pagi) dan sebaliknya pulangnya lebih lambat. Sore atau petang hari baru sampai rumah, ” tutur Sutini, warga Desa Kedungwaru yang bekerja sebagai buruh rokok di Kudus.

Jembatan “ogal agil” ini terbuat dari sesek (anyaman bambu). Panjangnya lebih dari 30 meter dan biasanya hanya diberi bambu memanjang sebagai pegangan tangan. Lebarnya sekitar 1,5 – 2 meter. Selain untuk dilalui warga yang berjalan kaki, juga ada yang “nuntun” sepeda motor. Dipasang saat air sungai Wulan nyaris kering. waktunya tidak begitu lama.


Jika kondisi air sungai Wulan masih cukup banyak, maka dioperasikan sebuah perahu yang mampu mengangkut 20-30 orang sekaligus. Hanya dikendalikan dua orang. Satu di bagian depan, satunya lagi di bagian belakang. Masing-masing membekali diri dengan sebilah batang bambu sebagai pengganti pengemudi. Hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit saja sekali seberang. Ongkosnya hanya Rp 500/orang.

Meski hanya Rp 500/orang, tapi pengelola penyeberangan illegal ini, dalam sehari bisa mengantungi rata rata sekitar Rp 1 juta. Pengelola juga sempat “membangun” jalan antara tepi tanggul Sungai Wulan sebelah utara hingga tanggul Sungai SWD I.

Menjelang pagi pada setiap harinya (kecuali hari libur), jika kondisi sungai Wulan normal, maka di ujung Desa Setrokalangan, dekat jembatan SWD I sudah menanti sejumlah angkutan umum yang siap mengantar warga asal Kedungwaru untuk bekerja di Kudus. Setelah lebih dahulu turun dari perahu/jembatan, lalu jalan kaki sekitar 200 meter.

Keberadaan jembatan ogal agil dan perahu penyeberangan di sungai Wulan ini sudah berlangsung sejak lebih dari 10 tahun lalu. Sampai sekarang Pemerintah Kabupaten Kudus, Demak maupun “bos- bos” perusahaan, belum juga turun tangan untuk mencari solusi terbaik. Bahkan konon malah sebagian besar pejabat dan bos bos itu belum tahu tentang keberadaan jembatan ogal agil dan perahu penyeberangan tersebut.(Grace)

BERITA LAINYA