| UPA Perpustakaan Untirta Menggelar Kegiatan Bedah Buku Baduy Masyarakat 1011 Tabu, Berlangsung Di Ruang TGCL, Gedung UPA Perpustakaan Untirta, Kabupaten Serang. |
SERANG – UPA Perpustakaan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar bedah buku Baduy Masyarakat 1001 Tabu karya Uday Suhada, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini berlangsung di Ruang TGCL, Lantai 3, Gedung UPA Perpustakaan Untirta, Sindangsari, Kabupaten Serang.
UPA Perpustakaan Untirta menyelenggarakan kegiatan ini sebagai rangkaian pra-acara Pekan Literasi Untirta (Pelita) yang akan digelar pada 4–9 Mei 2026. Rektor Untirta Fatah Sulaiman, Kepala UPA Perpustakaan Firman Hadiansyah, serta Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Provinsi Banten Rohaendi hadir dalam acara tersebut. Rohaendi juga tampil sebagai pembedah buku.
Kepala UPA Perpustakaan, Firman Hadiansyah, menegaskan pihaknya menyiapkan Pelita sebagai ajang literasi besar yang tidak hanya fokus pada teknis, tetapi juga memperkuat esensi gerakan literasi. Ia menilai bedah buku ini menjadi bagian penting untuk mengawali rangkaian kegiatan tersebut.
Firman menambahkan, tema Baduy sangat relevan dengan konteks Banten yang memiliki dua entitas budaya besar, yakni Kesultanan Banten dan masyarakat Baduy. Menurutnya, Baduy menjadi perhatian luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, mengapresiasi karya Uday Suhada dan menilai kegiatan bedah buku ini mampu menghidupkan fungsi perpustakaan. Ia menegaskan kampus terus mendorong penguatan budaya akademik melalui akses jurnal bereputasi seperti Scopus dan ScienceDirect.
Fatah berharap fasilitas tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan produktivitas karya ilmiah.
Sementara itu, Rohaendi menilai buku karya Uday Suhada menyajikan materi yang lebih lengkap dibandingkan karya sebelumnya tentang Baduy. Ia menyoroti keberadaan pitutur, mantra, serta ragam aktivitas masyarakat Baduy yang tertuang dalam buku tersebut.
Rohaendi mengajak masyarakat, khususnya warga Banten, untuk memahami kehidupan masyarakat Baduy secara lebih mendalam melalui buku tersebut.
Penulis buku, Uday Suhada, menyatakan ia menulis buku ini sebagai upaya menjaga, merawat, dan menghormati masyarakat adat Baduy atau Urang Kanekes. Ia menekankan pentingnya memahami berbagai larangan atau tabu dalam kehidupan masyarakat Baduy agar masyarakat luar dapat menghormati wilayah adat dan menjaga kelestarian budaya serta alamnya.
Uday berharap bukunya dapat menjadi referensi bagi berbagai kalangan sekaligus meningkatkan kesadaran untuk menghargai kearifan lokal masyarakat Baduy. (***)